Hakekat Pecinta Alam: Sesuatu yang berarti, yang sangat dalam tentang pecinta alam.
Pecinta Alam adalah : Orang yang menghargai alam dengan cara menjaganya.
Hal-hal yang harus diketahui tentang HPA, yaitu :
1. Mencintai : kita akan tahu manfaat apa yang terkandung di dalam alam.
2. Mengamalkan : kita harus mengamalkan segala sesuatu yang telah kita dapat dari alam kepada orang lain.
3. Melestarikan : karena kita yakin bahwa mencintai alam itu sebagian daripada iman, maka dari itu kita harus melestarikan alam ini.
Kode Etik Pecinta Alam Se-Indonesia
* Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
* Pecinta alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.
* Pecinta alam indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah SAUDARA sebagai mahluk yang mencintai alam sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa.
Makna Kode Etik PA :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhan.
3. Mengabdi kepada tanah air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam.
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
PERBEDAAN ANTARA PENCINTA ALAM DAN PENIKMAT ALAM
Pencinta Alam : Berarti sadar bahwa manusia diciptakan sebagai Khalifah dimuka bumi ini, maka sudah sepantasnya kita sebagai manusia menjaga alam ini agar selalu lestari. Karena pada arti sesungguhnya pencinta berarti mencintai atau menjaga.
Penikmat Alam : Berarti tidak memiliki kesadaran bahwa alam ini bukan alat pemuas yang hanya sekedar dinikmati tanpa memperbaiki dan memperhatikan segala akibat dari menikmati.
MANFAAT YANG DI DAPAT
1) Iman bertambah.
2) Sifat kedermawaan meningkat.
3) Pengalaman yang tak ternilai.
4) Pengetahuan dan wawasan yang luas.
5) Penemuan Karakter dan Jati diri.
6) Memahami nilai kebrsamaan.
A. Pendahuluan
Aktivitas
mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu kegiatan
yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang
menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian
bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan
dengan aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang ketrampilan yang mudah dan
tidak memiliki dasar pengetahuan teoritis. Mountaineering
menurut istilah umumnya adalah segala kegiatan yang bermedan gunung. Menurut sebagian
besar para pecinta alam diambil dari foting suara terbanyak, Mountaineering
adalah kegiatan mendaki gunung dengan aturan manajemen. Didalam
pendakian gunung banyak hal-hal
yang harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa :
aturan-aturan pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang
baik, untuk mendaki gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam
bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering
terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu :
- Berjalan (Hill Walking)
Secara
khusus kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan yang
paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang
hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini. Disini aspek yang lebih menonjol
adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
- Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun
kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia tetap
merupakan cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak
metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara
khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti,
tangan hanya memberi pertolongan.
- Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua
jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah
cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik
pendakian tebing gunung salju. Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu
didalamnya telah mencakup : Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan
peta, PPPK pegunungan, teknik-teknik Rock Climbing dan lain-lain.
B. Persiapan
Mendaki Gunung
1.
Pengenalan Medan
Untuk
menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter. Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk
mengetahui medan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang
yang pernah mendaki gunung tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut
sertakan orang yang pernah mendaki gunung tersebut bersama kita.
2.
Persiapan Fisik
Persiapan
fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan kelenturan otot.
Kesegaran jasmani akan mempengaruhi transport oksigen melelui peredaran darah
ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu daerah semakin
rendah kadar oksigennya.
3.
Persiapan Tim
Menentukan
anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan merencanakan semua
yang berkaitan dengan pendakian.
4.
Perbekalan dan Peralatan
Persiapan
perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan mendaki
gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindung
keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi
organ tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu
diperlukan perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di
ketinggian yang baru itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan
tidur, perlengkapan masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
C. Bahaya Di
Gunung
Dalam
olahraga mendaki gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu
pendakian.
- Faktor Internal
Yaitu
faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan
yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan
dan mental.
- Faktor Eksternal
Yaitu
faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor
intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati
untuk pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta
keterbatasan-keterbatasan pada diri kita sendiri. Mountain sickness ditandai dengan timbulnya
gejala-gejala :
- Merasakan sakit kepala atau pusing-pusing.
- Sukar atau tidak dapat tidur.
- Kehilangan control emosi atau lekas marah.
- Bernafas agak berat/susah.
- Sering terjadi penyimpangan interpretasi/keinginannya aneh-aneh, bersikap semaunya dan bisa mengarah kepenyimpangan mental.
- Biasanya terasa mual bahkan kadang-kadang sampai muntah, bila ini terjadi maka orang ini harus segera ditolong dengan memberi makanan/minuman untuk mencegah kekosongan perut. Gejala-gejala ini biasanya akan lebih parah di pagi hari, dan akan mencapai puncaknya pada hari kedua.
D. Langkah-Langkah
Dan Prosedur Pendakian
Umumnya
langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alam dalam
suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1.
Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
ª
Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan
bekerja mengurus : Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan
jadwal pendakian,persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan
lainnya yang berkaitan dengan pendakian.
ª
Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini
biasanya dilakukan dengan berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi
fisik serta memeksimalkan ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan
dengan mencari/mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul
dalam pendakian beserta cara-cara pencegahan/pemecahannya.
2.
Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
ª
Kelompok pelopor
ª
Kelompok inti
ª
Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan (penanggungjawab koordinasi). Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camp pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap
yaitu : Pelopor di depan (disertai guide), kelompok inti di tengah, dan team
penyapu di belakang. Jangan sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang
melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan
tetap. Setelah tiba di puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah
peserta, siapa tahu ada yang tertinggal.
3.
Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
E. Pengetahuan
Dasar Bagi Mountaineer
1
Orientasi Medan
A. Menentukan
arah perjalanan dan posisi pada peta
Dengan dua titik di medan yang dapat
diidentifikasikan pada gambar di peta. Dengan
menggunakan perhitungan teknik/azimuth, tariklah garis pada kedua titik
diidentifikasi tersebut di dalam peta. Garis perpotongan satu titik yaitu
posisi kita pada peta. Bila diketahui satu titik identifikasi, ada
beberapa cara yang dapat dicapai :
a. Kalau
kita berada di jalan setapak atau sungai yang tertera pada peta, maka
perpotongan garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan jalan setapak
atau sungai adalah kedudukan kita.
b. Menggunakan
altimeter. Perpotongan antara garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan
kontur pada titik ketinggian sesuai dengan angka pada altimeter adalah
kedudukan kita.
c. Dilakukan
secara kira-kira saja. Apabila kita sedang mendaki gunung, kemudian titik yang
berhasil yang diperoleh adalah puncaknya, maka tarik garis dari titik
identifikasi itu, lalu perkirakanlah berapa bagian dari gunung itu yang telah
kita daki.
B.
Menggunakan
kompas
Untuk membaca peta sangat dibutuhkan banyak bermacam
kompas yang dapat dipakai dalam satu
perjalanan atau pendakian, yaitu tipe silva, prisma dan lensa.
C. Peta dalam perjalanan
Dengan
mempelajari peta, kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilaui atau
dijelajahi. Penggunaan peta dan kompas memang ideal, tetapi sering dalam
praktek sangat sukar dalam menerapkannya di gunung-gunung di Indonesia. Hutan
yang sangat lebat atau kabut yang sangat tebal acap kali menyulitkan orientasi.
Penanggulangan dari kemungkinan ini seharusnya dimulai dari awal perjalanan, yaitu dengan mengetahui dan mengenali secara teliti tempat pertama yang menjadi awal perjalanan.
Gerak yang teliti dan cermat sangat dibutuhkan dalam situasi seperi di atas. Ada baiknya tanda alam sepanjang jalan yang kita lalui diperhatikan dan dihafal, mungkin akan sangat bermanfaat kalau kita kehilangan arah dan terpaksa kembali ketempat semula.
Dari pengalaman terutama di hutan dan di gunung tropis kepekaan terhadap lingkungan alam yang dilalui lebih menentukan dari pada kita mengandalkan alat-alat seperti kompas tersebut. Hanya sering dengan berlatih dan melakukan perjalanan kepekaan itu bisa diperoleh.
2.
Membaca Keadaan Alam
- Keadaan udara Sinar merah pada waktu Matahari akan terbenam. Sinar merah pada langit yang tidak berawan mengakibatkan esok harinya cuaca baik. Sinar merah pada waktu Matahari terbit sering mengakibatkan hari tetap bercuaca buruk. Perbedaan yang besar antara temperature siang hari dan malam hari. Apabila tidak angin gunung atau angin lembab atau pagi-pagi berhembus angin panas, maka diramalkan adanya udara yang buruk. Hal ini berlaku sebaliknya. Awan putih berbentuk seperti bulu kambing. Apabila awan ini hilang atau hanya lewat saja berarti cuaca baik. Sebaliknya apabila awan ini berkelompok seperti selimut putih maka datanglah cuaca buruk.
- Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk
- Sandi dari batang/ranting yang dipatahkan/dibengkokkan
- Sandi dari rumput/semak yang diikat
3.
Tingkatan Pendakian gunung
Agar
setiap orang mengetahui apakah lintasan yang akan ditempuhnya sulit atau mudah,
maka dalam olahraga mendaki gunung dibuat penggolongan tingkat kesulitan setiap
medan atau lintasan gunung.
Penggolongan
ini tergantung pada karakter tebing atau gunungnya, temperamen dan penampilan
fisik si pendaki, cuaca, kuat dan rapuhnya batuan di tebing, dan macam-macam variabel
lainnya.
Kelas 1 :
Berjalan. Tidak memerlukan peralatan dan teknik khusus.
Kelas 2 :
Merangkak (scrambling). Dianjurkan untuk memakai sepatu yang layak. Penggunaan tangan mungkin diperlukan untuk membantu.
Kelas 3 : Memanjat
(climbing). Tali diperlukan bagi pendaki yang belum berpengalaman.
Kelas 4 : Memanjat
dengan tali dan belaying. Anchor untuk belaying mungkin diperlukan.
Kelas 5 : Memanjat
bebas dengan penggunaan tali belaying dan runner. Kelas ini dibagi lagi menjadi
13 tingkatan.
Kelas 6 :
Pemanjatan artificial. Tali dan anchor digunakan untuk gerakan naik. Kelas ini
sering disebut kelas A. Selanjutnya dibagi dalam 5 tingkatan.
F. Manajemen
Perjalanan & Peralatan
1.
Perencanan perjalanan
Hal
pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data
data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau
artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan
pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta
informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran
medan lokasi yang akan kita daki.
Selanjutnya
buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan
rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan
berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa,
perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur
pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan
sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan
setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu
kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.
Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya
memperhatikan :
- Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
- Mempelajari medan yang akan ditempuh.
- Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
- Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
- Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa
2.
Perlengkapan dasar perjalanan
- Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
- Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
- Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
- Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
- Ransel / carriel.
3.
Perlengkapan pembantu
- Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
- Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
- Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada],Jam tangan.
4.
Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.
- Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
- Masukkan dalam kantong plastik.
- Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
- Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
- Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
G.
Persiapan mendaki gunung
Persiapan
umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika,
pengetahuan dan ketrampilan.
a. Kesiapan mental.
Mental
amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit,
tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.
b. Kesiapan fisik.
Beberapa
latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching/perenggangan
[sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan,
agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama
waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan
selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up,
push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya
melebihi porsi sebelumnya.
c. Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan
seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan
dituju.
d. Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan
untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki
adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency
medical care] praktis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar